Barangkali benar adanya bahwa Gerakan 2019 Ganti Presiden merupakan gerakan ngasal, aneh, tanpa tujuan, penuh kesia-siaan. Karena bagaimana mungkin suatu gerakan oposisi digemakan tanpa isi/wacana, solusi/subtitusi pada sosok yang ditentang. Untuk menambahkannya makin musykil, gerakan ini digaungkan sebagiannya (sebagian besar jika mengacu kepada sumber pemberitaan yang dikutip yang kebanyakan bukan pewarta kredibel) melalui persebaran konten-konten yang keliru, hoax, salah pembacaan, salah antisipasi, yang menjadikan gerakan tersebut tidak terlihat kredibel.

Namun, faktanya Gerakan 2019 Ganti Presiden cukup eksis, bahkan dikatakan meraih dukungan signifikan di Jawa Barat. Seberapa signifikan? Lembagai Survei SMRC dalam survei terbarunya (1/07/2018) menyebutkan bahwa elektibilitas Jokowi di Jawa Barat ikut tergerus hingga kurang dari 50 persen karena gerakan ini. Yang memberi arti, Gerakan 2019 Ganti Presiden bukan gerakan sambil lalu.

Jika memang demikian sudah tidak bisa dianggap remeh, tentunya harus ada yang mampu menjelaskan mengapa gerakan absurd ini laku di masyarakat? Mengapa sebagian masyarakat tidak menjadi oposisi yang cerdas, yang tahu keinginannya sendiri, cenderung pada solusi, hingga akhirnya mengerucut pada sosok yang dianggap mampu menandingi Jokowi, entah dari sisi gagasan, kharisma, hingga popularitas? Mengapa bisa demikian?

Justru itulah. Jawaban dari keheranan kita pada kemunculan Gerakan 2019 Ganti Presiden, mesti dilihat dari sisi sosiologis, dibandingkan pendekatan politik. Artinya, gerakan ini tidak tumbuh sebagai agregat politik tok. Tidak muncul untuk menandingi Jokowi sebagai kepala negara. Namun muncul melalui mitos, folklore, serta kesalahpahaman tentang sosok Jokowi yang digambarkan sebagai dekat dengan komunisme, anti gerakan Islam, anti PKS, anti HTI, anti pribumi.

Dalam hal ini Jokowi telah sukses digambarkan sebagai “thagut”, gambaran musuh besar dari gerakan politik transnasionalis Islam (seperti PKS/HTI) yang cenderung mengejar kekuasaan di suatu negara untuk menerapkan syariah. Disposisi wajah Jokowi dari pemimpin sederhana, yang muncul dari gerakan para nasionalis dibelokkan melalui decode beberapa tokoh oposisi, seperti Amien Rais yang menyebut ada pertarungan Partai Allah dengan Partai Setan, atau cuitan tokoh-tokoh PKS, lalu Tengku Zulkarnain yang kerap memposisikan biner Jokowi terhadap fundamentalis Islam.

Sehingga jika boleh diperjelas di sini. Hanyalah Jokowi seorang, yang secara istimewa dalam sejarah kepemimpinan di Indonesia benar-benar digambarkan secara biner oleh aktivis Islam politik transnasionalis. Belum pernah sejarahnya seorang pemimpin yang hanya maksimal memimpin 10 tahun, benar-benar dianggap sebagai musuh utama dalam permusuhan yang amat sangat oleh para aktivis islam politik transnasionalis tersebut Dari permusuhan ideologis akhirnya menjadi kebencian yang terlalu mengakar.

Lalu mengapa Jokowi? Mengapa sekarang? Jawabannya karena rasa takut terhadap Jokowi. Para transnasionalis Islam ini sangat kagum, salut, pada sosok Jokowi di mana mereka pun mengerti bahwa Jokowi sulit dikalahkan, sulit ditandingi oleh calon-calon yang ada dalam kulkas mereka sendiri. Yang pada akhirnya, Jokowi membahayakan “dakwah” mereka. Karena jangan sampai dari ceruk nasionalis, muncul tokoh yang mendekati sempurna. Jika ada, harus didelegitimasi. Jika gagal tanggung kepalang, thagutkan sekalian. Buat Jokowi benar-benar sempurna sebagai wujud musuh Islam sebenar-benarnya.

Inilah yang digambarkan dalam istilah Jerman sebagai Schafenfreude kebencian karena ingin lihat orang hancur, bukan karena ingin dirinya mendapatkan sesuatu. Jokowi sudah sedemikian kokoh sebagai brand, sulit ditandingi, oleh karenanya, mesti dihancurkan sekalian, jika kehancuran itu mengakibatkan kehancuran segalanya, tidak mengapa. Bukan masalah.

Lalu, kiranya apa yang dapat mengehentikan mereka menthagutkan Jokowi, membuat mereka berhenti merongrong Jokowi? Inilah bagian yang paling menarik. Sehebat-hebatnya Gerakan 2019 Ganti Presiden, gerakan ini akan lenyap sendirinya, jika Jokowi misalnya benar-benar tidak menjadi presiden. Segala mitos, hoax, yang menyerang jokowi, serta merta lenyap, musnah, hilang tanpa bekas. Jokowi sendiri barangkali kembali diakui sebagai bagian dari Islam, bukan thagut, bukan setan, bukan musuh, bukan siapa-siapa.

Mereka akan pindah ke “Jokowi” lain atau para nasionalis yang kiranya dapat mengancam eksistensi ketokohan yang mereka miliki. Kebencian model Schafenfreude ternyata dapat menjadi senjata politik yang ampuh untuk mengalahkan para nasionalis.

Tapi, bukankah itu tidak etis? Tidak islami? Bertentangan dengan syariah, menthagutkan seorang muslim hanya karena berbeda posisi dengan mereka?

Untuk masalah itu, hanya Gerakan 2019 Ganti Presiden yang tahu logikanya, menzhalimi sesama muslim dengan serangan hoax, menthagutkannya demi keuntungan politik, mereka barangkali sanggup tanggung dosanya.****

Kiriman tulisan dari Relawan Salman Faris Rais.

Lihat Pula: Kecaman Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, terhadap insiden memalukan di Car Free Day

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s